Tulisan-SBY - Melalui Twitter dan Facebook SBY, juga melalui Instagram Ani Yudhoyono, sejumlah netizen menanyakan apa saja kegiatan mantan presiden SBY saat ini, khususnya kegiatan yang dilakukan di luar negeri. Pertanyaan terbaru disampaikan 3 hari lalu, sewaktu SBY berada di London untuk mengikuti dua konferensi internasional. Oleh karena itu, berikut ini akan disampaikan apa saja posisi, peran dan kegiatan SBY sejak mengakhiri tugasnya sebagai Presiden Republik Indonesia 20 Oktober 2014 yang lalu.
Satu bulan setelah merampungkan tugas sejarah memimpin Indonesia, pada bulan November 2014, SBY langsung mengemban tugas baru, memimpin organisasi internasional yang bernama Global Green Growth Institute (GGGI) yang bermarkas di Seoul, Korea Selatan. Sebenarnya pengangkatan SBY sebagai Presiden Majelis dan sekaligus Ketua Dewan GGGI ini telah dilangsungkan di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) New York September 2014, ketika yang terakhir kalinya SBY hadir dan menyampaikan pidatonya di hadapan sidang tahunan Majelis Umum PBB selaku Presiden Indonesia. Pengangkatan resmi SBY untuk memimpin GGGI ini dihadiri oleh sejumlah tokoh dunia, di antaranya adalah Presiden Korea Selatan Park Geun-hye dan Sekjen PBB Ban Ki-moon. Jabatan ini Insya Allah akan diemban SBY selama dua tahun. Kepercayaan dan penunjukan SBY untuk memimpin lembaga internasional yang bergerak di bidang green growth dan sustainable development ini tak lepas dari penilaian kalangan internasional, termasuk PBB sendiri, atas peran, jasa dan kontribusi SBY dalam bidang perubahan iklim, ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan. Dibawah kepemimpinan SBY, Indonesia dinilai serius dalam menjalankan pembangunan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Selain itu, disamping dinilai sukses ketika menyelenggarakan Konferensi PBB tentang Climate Change di Bali Indonesia bulan Desember 2007, yang menghasilkan Bali Roadmap, SBY juga berperan penting dalan mempersiapkan Sustainable Development Agenda yang bulan September 2015 yang lalu disyahkan PBB sebagai pengganti MDG yang telah jatuh tempo. Sebagaimana diketahui rakyat Indonesia, SBY bersama Perdana Menteri Inggris David Cameroon dan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf ditugasi oleh PBB untuk memimpin 27 orang tokoh penting dari seluruh dunia, guna mempersiapkan Post 2015 Development Agenda. Produk inilah yang menjadi bagian penting SDA sebagai pengganti MDG. Berkaitan dengan posisi SBY sebagai Presiden GGGI ini, setiap tahun, 2 sampai 3 kali SBY harus berada di Seoul (beberapa hari saja) untuk memimpin sidang-sidang GGGI.
Saat ini SBY juga menjadi Guru Besar Tamu (visiting professor) di University of Western Australia (UWA) yang berada di Perth, sekaligus sebagai Senior Fellow dari Perth USAsia Centre. Kedua lembaga itu memandang ketokohan SBY sebagai mantan Presiden Indonesia dan juga salah satu Asian Statesman tepat untuk mengemban kedua peran itu. Untuk melaksanakan "tugas" internasional ini SBY akan hadir di Perth Australia satu atau dua kali setahunnya, masing-masing selama 1 minggu. Sebagai seorang Doktor lulusan IPB di bidang Ekonomi Pertanian dan juga sebagai Profesor di Universitas Pertahanan Indonesia, SBY diyakini dapat mengemban tugas di dunia akademik seraya menyumbangkan pikiran dan pengalamannya. Bahkan, dalam rangkaian kegiatan SBY di Perth bulan September 2015 yang lalu, banyak sekali forum yang harus dihadiri, yang kesemuanya dapat digunakan untuk memperkuat hubungan, kerjasama dan kemitraan antar negara di kawasan Asia Pasifik, dan lebih khusus untuk mempererat hubungan Indonesia-Australia sendiri. Sewaktu SBY berada di Perth, SBY juga menerima telepon dari Perdana Menteri Australia yang baru Malcolm Turnbull. Pembicaraan berlangsung konstruktif. Kedua tokoh menilai hubungan Indonesia Australia baik dan terus berkembang, meskipun sekali-sekali ada isu dan persoalan yang harus dikelola bersama, berdasarkan semangat persahabatan dan prinsip-prinsip bertetangga baik. Disamping Australia mengucapkan terima kasih atas upaya dan inisiatif SBY untuk memelihara dan meningkatkan hubungan bilateral kedua bangsa ~ meskipun situasinya sering dinamis dan "delicate"~ Turnbull juga berharap dengan posisi SBY sebagai guru besar tamu di UWA dan senior fellow di Perth USAsia Centre, SBY bisa terus menjadi bagian dari persahabatan kedua bangsa ke depan. Sebaliknya, SBY juga menyampaikan pandangan dan harapannya agar kedepan hubungan bilateral Indonesia-Australia semakin kokoh, seraya mengatasi sejumlah isu yang sering mengganggu hubungan kedua negara. Secara khusus SBY juga berharap agar hubungan Perdana Menteri Turnbull dengan Presiden Jokowi bisa dijalin dengan baik, termasuk hubungan pribadi kedua pemimpin itu, yang sering amat penting dalam dunia diplomasi dan hubungan internasional.
Sejak tahun lalu SBY menjadi salah satu patron dan penasehat dari World Chinese Economic Summit (WCES) yang minggu lalu melaksanakan pertemuan di London dan tahun lalu menyelenggarakan kegiatan serupa di Chonqing Tiongkok. Forum ini adalah forum kerjasama ekonomi intra Asia dan Asia dengan dunia, tentunya termasuk Tiongkok. Masih berkaitan dengan Tiongkok, SBY juga menjadi anggota Board of Advisor Boao Forum for Asia (BFA) yang sekretariatnya berdomisili di Hainan, Tiongkok. Minggu lalu pula BFA menyelenggarakan pertemuan di London. Forum ini, seperti halnya World Economic Forum yang berdomisili di Davos Swiss, juga aktif melakukan kegiatan yang dihadiri oleh para pemimpin dan tokoh dunia dari berbagai kalangan. Untuk melakukan kegiatan ini, SBY satu atau dua kali setahun datang ke Tiongkok, atau negara lain yang dipilih.
Sebagai mantan Presiden Indonesia yang dulu aktif menjalin dan memperkuat kerjasama ASEAN, termasuk dalam ikut mempersiapkan Piagam ASEAN yang baru (ASEAN Charter) dan pembentukan Masyarakat ASEAN (ASEAN Community) yang tahun 2015 ini secara resmi akan diadopsi di Kuala Lumpur Malaysia, SBY diminta oleh Insititute for Southeast Asian Studies (ISEAS) yang markasnya berada di Singapura, untuk menjadi Distinguished Honorary Fellow di lembaga itu. Melalui institut ini SBY diharapkan bisa menyumbangkan pikiran dan pengalamannya untuk kebaikan, kemajuan dan kejayaan ASEAN di masa depan, membantu para pemimpin negara-negara ASEAN yang tengah menjalankan tugas-tugasnya. Sementara itu, masih berkaitan dengan Asia, SBY juga menjadi salah satu penasehat dari lembaga yang bernama Asia Strategy & Leadership Institute (ASLI) yang sekretariatnya berada di Malaysia.
Ada 2 lembaga internasional lagi yang SBY menjadi anggotanya. Pertama adalah InterAction Council yang sekretariatnya ada di Kanada dan kedua The Club of Madrid, Spanyol. Kedua organisasi ini menghimpun para mantan kepala negara dan kepala pemerintahan, utamanya mantan Presiden dan Perdana Menteri, untuk terus menyumbangkan pikiran dan pengalamannya, guna menjawab berbagai tantangan dan permasalahan global dewasa ini. 10 tahun masa kepresiden SBY dinilai amat berguna untuk ikut dikontribusikan ke masyarakat dunia melalui lembaga itu.
Berkaitan dengan dunia Islam, SBY juga diminta untuk ikut menyumbangkan pikiran-pikirannya. Sejak masih menjadi presiden, SBY menjadi salah satu patron dari World Islamic Economic Forum yang sekretariatnya berada di Kuala Lumpur Malaysia. Beberapa bulan yang lalu Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OKI) juga mengajak dan meminta SBY, bersama beberapa mantan pemimpin negara Islam lainnya, untuk aktif dalam forum OKI , guna mencari solusi atas sejumlah persoalan kritis yang menimpa dunia Islam saat ini. Bidang-bidang yang menjadi perhatian di mana SBY diharapkan bisa menjadi salah satu anggota Wise Person Council adalah menyangkut isu perdamaian dan keamanan internasional, yang saat ini banyak sekali singgungannya dengan dunia Islam.
Itulah posisi resmi yang disandang oleh SBY di forum global saat ini. Namun, kegiatan SBY tentu bukan hanya yang berkaitan dengan lembaga-lembaga itu. Cukup sering SBY diundang secara khusus sebagai pembicara kunci (keynote speaker), panelis atau narasumber dalam sejumlah konferensi internasional. Topik yang dimintakan kepada SBY untuk disampaikan amat beragam, mulai dari ekonomi, perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan & green economy, geopolitik, perdamaian & keamanan dunia, dinamika ASEAN, hubungan Asia & Amerika, hingga masa depan Indonesia dan peran internasionalnya di kawasan Asia Pasifik. Yang justru ingin didengar oleh kalangan diluar negeri adalah bagaimana Indonesia bisa membangun ekonominya di era pemerintahan SBY dengan pertumbuhan yang relatif tinggi serta dinilai berhasil pula mengatasi dampak krisis ekonomi global tahun 2008 yang lalu. Sejak SBY mengakhiri tugasnya sebagai Presiden Indonesia, SBY telah hadir dalam berbagai konferensi internasional, baik sebagai pembicara utama atau panelis, antara lain di Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Singapura, Australia, Perancis, Inggris dan Amerika Serikat.
Ketika berada di luar negeri, cukup banyak kalangan masyarakat Indonesia yang meminta bertemu SBY untuk berbincang-bincang menyangkut perkembangan di tanah air serta hubungan Indonesia dengan negara-negara di dunia. Sebagian besar adalah para mahasiswa Indonesia yang sedang studi di luar negeri dan utamanya para followers SBY & Ibu Ani di media sosial. Dalam pertemuan informal yang dilaksanakan, SBY selalu mengajak warga Indonesia yang ada di luar negeri untuk berpikir positif, optimis dan terus melakukan sesuatu yang meaningful untuk kebaikan bangsa dan negaranya. SBY punya "rules" yang dijaga dengan sungguh-sungguh yaitu tak baik menjelek-jelekkan negara sendiri, pemerintah sendiri dan pemimpin sendiri di luar negeri. Apalagi dalam pertemuan yang formal dan terbuka. SBY pernah mengatakan bahwa dulu ketika menjadi Presiden, dirinya mengetahui sejumlah tokoh politik Indonesia menyerang dan mendiskreditkannya di luar negeri bahkan dihadapan forum yang resmi. Karena sangat keterlaluan didalam menyerang SBY, sampai-sampai tuan rumah rumah sendiri merasa tidak nyaman dan memberikan penilaian negatif terhadap politisi yang justru menghantam pemerintah dan pemimpinnya sendiri. SBY pernah mendengar hal itu terjadi di Singapura, di Amerika Serikat dan di sejumlah tempat yang lain. SBY berprinsip, ia tak mau melakukan sesuatu terhadap orang lain yang SBY sendiri tidak suka jika dibegitukan oleh orang lain itu.
Kalau SBY merasa sangat perlu untuk menyampaikan pandangan dan pendapatnya di dalam negeri, SBY lakukan melalui twitter dan facebook. SBY memilih untuk menggunakan bahasa yang santun dan terukur meskipun bisa tajam. Sungguhpun SBY tetap berhati-hati dalam mengeluarkan pikiran dan pendapatnya, tetap saja ada pihak-pihak yang tidak suka. Ada yang mengatakan SBY mengalami post power syndrome dan meminta SBY untuk "diam saja". Bahkan, belakangan ini SBY juga menerima pesan yang kurang menyenangkan dari lingkar kekuasaan. SBY sedih, karena untuk berbicarapun nampaknya tidak leluasa, sesuatu yang tak pernah dilakukan SBY ketika ia memimpin Indonesia selama 10 tahun dulu.
Hal lain yang perlu kami informasikan dan baik untuk diketahui oleh para followers khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, setiap kali SBY melakukan kegiatan di luar negeri Ibu Ani selalu mendampingi. Itulah sebabnya banyak foto dokumentasi kegiatan yang diunggah di instagram Ibu Ani dan juga di twitter dan facebook SBY. Jadi setiap berada di luar negeri ada agenda kegiatan yang pasti, bukan sekedar jalan-jalan, meskipun ... bagi seorang mantan Presiden dan mantan Ibu Negara sekali-sekali "jalan-jalan" di luar negeri tentu tidak dilarang, baik oleh agama maupun undang-undang. Namun, para netizen mesti tahu jumlah foto-foto kegiatan SBY & Ibu Ani di dalam negeri yang diunggah di instagram jumlahnya tetap jauh lebih banyak.
Ada juga yang menanyakan apakah SBY melakukan kegiatan bisnis di luar negeri lantaran dilihat beberapa kali berkunjung keluar negeri. SBY berpesan kepada kami untuk disampaikan jawaban yang tegas dan jelas bahwa hal itu tidak dilakukan SBY. Tidak ada bisnisnya. Sewaktu jadi Presiden selama 10 tahunpun SBY tidak berbisnis. Ia tak punya perusahaan bisnis. SBY tidak mau ada conflict of interests dan lantas menggunakan kekuasaannya secara salah demi keuntungan pribadinya. Ketika masih menjadi Presiden, SBY sering mengingatkan bahwa tidak dilarang keluarga pejabat negara melakukan bisnis, tetapi pastikan itu tidak melanggar hukum dan undang-undang, bebas dari conflict of interests dan tidak menyalahgunakan kekuasannya, terutama bisnis yang berkaitan dengan APBN & APBD.
Satu hal lagi yang perlu kami sampaikan, seperti yang pernah SBY katakan, meskipun SBY kelihatan sering berada di luar negeri, jumlah waktu yang SBY gunakan tidak lebih dari 3 bulan setiap tahunnya. Jadi hanya sekitar 25 % maksimal. Sebagian besar waktunya masih tetap digunakan di dalam negeri, baik dalam kapasitasnya sebagai warga negara yang akan tetap peduli dan aktif memikirkan masa depan bangsanya, maupun dalam kapasitasnya sebagai pemimpin Partai Demokrat (PD) yang akan terus membenahi, membangun dan membina PD agar partai itu terus tumbuh menjadi partai politik yang baik, peduli dan cerdas dalam ikut mencarikan solusi bagi persoalan yang dihadapi rakyat, serta menyiapkan kader-kader yang kapabel untuk menjadi pemimpin-pemimpin eksekutif dan anggota parlemen di Indonesia.
Didalam negeri sendiri, sebagaimana yang masyarakat sering ketahui, SBY juga kerap diundang oleh berbagai perguruan tinggi di tanah air untuk menyampaikan kuliah umum atau pidato kunci dalam berbagai forum seminar dan konferensi. Dalam kesempatan berada di daerah itulah SBY berupaya tetap menjaga silaturrahim dengan masyarakat. Amat sering pula SBY & Ibu Ani melakukan kopi darat (kopdar) dengan para followers instagram, twitter & facebook ketika sedang berada di daerah.
Demikianlah penjelasan tentang kegiatan SBY & Ibu Ani setelah berada di luar pemerintahan, utamanya kegiatan di luar negeri, guna menjawab pertanyaan yang sering diajukan oleh para netizen.